March 5, 2024

Okapimediaplus.com

Seputar Info Terbaru

Mengenal NPL Bank: Fungsi, Rumus dan Faktor yang Mempengaruhi

NPL bank adalah

NPL atau Non Performing Loan (Kredit Bermasalah) merujuk pada kondisi di mana peminjam tidak dapat melakukan pembayaran yang dijadwalkan untuk jangka waktu tertentu. NPL digunakan sebagai indikator kesehatan aset suatu lembaga keuangan, terutama bank. Kredit bermasalah ini dapat terdiri dari kredit yang digolongkan Kurang Lancar (KL), Diragukan (D), dan Macet (M).

 

Dampak negatif dari NPL bagi lembaga keuangan termasuk penurunan Credit Adequacy Ratio (CAR), yang merupakan kecukupan modal perbankan untuk menanggulangi berbagai risiko yang mungkin terjadi. Penurunan arus perputaran kredit dapat mengakibatkan bank harus menutupi kebutuhan modalnya dengan modal sendiri, sehingga mengurangi CAR yang dimiliki. NPL juga dapat mengakibatkan kesulitan operasional bagi bank, menurunnya modal pinjaman yang dapat diberikan, bahkan hingga berujung pada kehancuran bank itu sendiri.

 

Untuk mencegah terjadinya NPL, penting bagi lembaga keuangan, terutama bank, untuk menggunakan teknologi yang mumpuni untuk melakukan analisis terhadap calon debitur. Dengan demikian, diharapkan dapat meminimalisir terjadinya NPL.

 

Apa Bedanya dengan Rasio NPL?

Rasio NPL bank adalah rasio yang menggambarkan proporsi kredit bermasalah atau kredit yang tidak lancar dalam portofolio kredit suatu bank. Kredit bermasalah ini terdiri dari kategori kurang lancar, diragukan, atau macet. Rasio NPL digunakan sebagai indikator kesehatan keuangan bank dan kualitas aset yang dimilikinya.

 

Setiap bank memiliki rasio NPL yang berbeda-beda. Idealnya, rasio NPL yang baik adalah di bawah 5%. Jika rasio NPL melebihi 5%, maka dapat dikatakan bahwa jumlah kredit bermasalah lebih banyak daripada kredit yang lancar. Rasio NPL yang tinggi dapat mengindikasikan adanya masalah dalam portofolio kredit bank, seperti risiko kredit yang tinggi atau masalah dalam pengelolaan risiko kredit.

 

Rasio NPL juga digunakan oleh regulator dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengawasi dan mengevaluasi kinerja bank. Rasio NPL yang tinggi dapat menarik perhatian regulator dan memicu tindakan pengawasan lebih lanjut terhadap bank yang bersangkutan.

 

Penting untuk bank menjaga rasio NPL tetap rendah dengan melakukan manajemen risiko kredit yang baik, termasuk pemantauan kualitas kredit secara berkala, penilaian kelayakan kredit yang cermat, dan penanganan kredit bermasalah dengan tepat waktu. Dengan menjaga rasio NPL tetap rendah, bank dapat mempertahankan kesehatan keuangan dan kepercayaan pemangku kepentingan.

 

Fungsi NPL Bank

Non-Performing Loan (NPL) merupakan indikator penting dalam industri perbankan yang menggambarkan kualitas aset bank. Fungsi NPL bank meliputi:

  • Indikator Kesehatan Keuangan

NPL digunakan sebagai indikator kesehatan keuangan bank. Tingkat NPL yang rendah menunjukkan bahwa bank memiliki kualitas aset yang baik dan mampu mengelola risiko kredit dengan efektif. Sebaliknya, tingkat NPL yang tinggi dapat menjadi sinyal adanya masalah dalam portofolio kredit bank.

  • Pemantauan Risiko Kredit

Bank menggunakan NPL untuk memantau risiko kredit yang dimilikinya. Dengan memantau tingkat NPL, bank dapat mengidentifikasi sektor-sektor atau produk-produk kredit yang berpotensi menimbulkan risiko tinggi, sehingga dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko tersebut.

  • Penentuan Kebijakan Perbankan

Tingkat NPL dapat memengaruhi kebijakan perbankan, termasuk kebijakan penyaluran kredit dan penetapan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). Bank dapat menyesuaikan kebijakan-kebijakan ini berdasarkan tingkat NPL yang dimilikinya.

  • Pengambilan Keputusan Investasi

Investor dan pemangku kepentingan lainnya menggunakan informasi NPL untuk mengevaluasi kinerja dan potensi investasi dalam bank. Tingkat NPL yang rendah dapat menjadi indikator kinerja yang baik, sementara tingkat NPL yang tinggi dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan keuangan bank.

  • Pengawasan Regulator

Regulator menggunakan NPL sebagai salah satu parameter untuk mengawasi industri perbankan. Tingkat NPL yang tinggi dapat menarik perhatian regulator dan memicu tindakan pengawasan lebih lanjut terhadap bank yang bersangkutan.

 

Dengan demikian, NPL memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kesehatan keuangan bank, pengelolaan risiko kredit, dan pengambilan keputusan di tingkat perbankan maupun regulasi.

 

Rumus Menghitung NPL Bank

Rasio NPL (Non Performing Loan) merupakan rasio yang menggambarkan proporsi kredit bermasalah dalam portofolio kredit suatu bank. Berikut adalah rumus umum yang digunakan untuk menghitung rasio NPL:

 

Rasio NPL = (Total NPL / Total Kredit) x 100%

 

Total NPL dapat terdiri dari kategori kurang lancar, diragukan, dan macet. Sedangkan Total Kredit mencakup seluruh kredit yang ada dalam portofolio bank.

 

Contoh perhitungan rasio NPL:

Jika jumlah kredit bermasalah (kurang lancar, diragukan, dan macet) dalam portofolio bank adalah Rp 100 miliar, dan total kredit yang ada adalah Rp 2 miliar, maka rumus perhitungannya adalah:

 

Rasio NPL = (Rp 100 miliar / Rp 2 miliar) x 100% = 5%

 

Dalam contoh ini, rasio NPL bank tersebut adalah 5%.

 

Penting untuk dicatat bahwa rumus perhitungan rasio NPL dapat bervariasi tergantung pada kebijakan dan definisi yang digunakan oleh masing-masing bank. Oleh karena itu, penting untuk merujuk pada pedoman dan kebijakan internal bank terkait dengan perhitungan rasio NPL.

 

Faktor Penyebab NPL Bank Tinggi

Faktor-faktor penyebab tingginya NPL (Non Performing Loan) pada bank dapat bervariasi, namun beberapa faktor umum yang dapat mempengaruhi tingkat NPL antara lain:

  • Kondisi Ekonomi yang Buruk

Ketika terjadi krisis ekonomi atau perlambatan ekonomi yang signifikan, banyak debitur mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembayaran kredit mereka. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan NPL pada bank.

  • Kualitas Manajemen Risiko Kredit

Manajemen risiko kredit yang lemah atau kurang cermat dalam menilai kelayakan kredit dapat menyebabkan peningkatan NPL. Jika bank tidak melakukan evaluasi yang memadai terhadap calon debitur atau tidak memantau kualitas kredit secara berkala, risiko kredit yang tinggi dapat terakumulasi.

  • Kualitas Debitur

Tingkat NPL dapat dipengaruhi oleh kualitas debitur yang buruk. Debitur dengan profil risiko tinggi, seperti yang memiliki riwayat pembayaran yang buruk atau memiliki kemampuan finansial yang lemah, cenderung memiliki risiko kredit yang lebih tinggi.

  • Kualitas Pengelolaan Kolektibilitas

Pengelolaan kolektibilitas yang tidak efektif atau kurang proaktif dalam menangani kredit bermasalah dapat menyebabkan peningkatan NPL. Jika bank tidak memiliki proses yang baik dalam menyelesaikan kredit bermasalah atau tidak melakukan upaya pemulihan yang memadai, NPL dapat meningkat.

  • Perubahan Regulasi

Perubahan regulasi terkait industri perbankan atau perubahan kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi tingkat NPL. Misalnya, perubahan suku bunga atau kebijakan restrukturisasi kredit dapat berdampak pada tingkat NPL.

 

Penting bagi bank untuk memiliki manajemen risiko yang baik, melakukan evaluasi kelayakan kredit yang cermat, memantau kualitas kredit secara berkala, dan memiliki proses pengelolaan kolektibilitas yang efektif untuk mengurangi risiko NPL.

 

Untuk meminimalisir risiko serta mengelola NPL dengan lebih mudah, lembaga keuangan perlu melakukan analisis kredit yang akurat dan menyeluruh. Analisis kredit adalah proses penilaian kelayakan kredit seseorang atau perusahaan untuk mengajukan pinjaman. Analisis kredit dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya adalah dengan menggunakan Ascore.ai by Amartha.

 

Ascore.ai by Amartha adalah layanan credit decisioning solution berbasis AI yang dapat digunakan untuk menilai kelayakan kredit, mendeteksi fraud, dan mengelola risiko kredit. Ascore.ai adalah platform kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh Amartha, sebuah perusahaan fintech yang berfokus pada inklusi keuangan. Ascore.ai menggunakan algoritma dan machine learning untuk menganalisis data kredit dan memberikan penilaian risiko yang akurat. Dengan bantuan Ascore.ai, bank dapat melakukan penilaian kredit secara lebih efisien dan mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai calon peminjam.